Jumat, 26 Februari 2010

Ayam Bertelur Seberat 120 gram


Sepasang suami istri dari Inggris, Mark Cornish 36 tahun dan Denise Bartram 42 tahun, terkejut ketika mengetahui ayamnya, Matilda, memiliki telur yang ukurannya enam kali lebih besar dari ukuran telur normal lainnya.

Ayam itu sebenarnya memiliki empat telur, tapi telur yang satu memang tampak berbeda dengan yang lainnya. Beratnya mencapai 4,2 ons atau sekira 120 gram, dan diameternya mencapai 8 inci.

Cornish mengatakan bahwa normalnya ayam bertelur dengan ukuran sekira 0,7 ons atau 20 gram dan dengan diameter hanya 5,5 inci.

"Banyak orang yang menganggap itu sebagai telur angsa, karena ukurannya yang besar," ujarnya. Cornish menambahkan bahwa dia akan mencoba memasukkannya ke dalam buku rekor. Sperti dilansir upi.com, Kamis (25/2/2010).

Minggu, 21 Februari 2010

Wajah Manusia pun Dikenali Lebah


Siapa bilang hewan kecil seperti Lebah, tidak bisa mengenali wajah manusia? Sebuah penelitian oleh peneliti dari Australia dan Perancis membuktikannya.

Dalam penelitian tersebut terungkap, kalau para lebah itu akan mengenali wajah manusia, selama wajah tersebut memeliki kecocokan bentuk dengan bunga, karena para Lebah tersebut akan mengenalnya demikian.


Uji coba tersebut memperlihatkan bahwa pada dasarnya lebah dapat diajarkan bagamaina mengenal pola, dan tekstur garis pada wajah manusia. Akan tetapi, para peneliti tersebut mengingatkan seperti yang dilansir Jurnal Science, Senin (1/2/2010), pengenalan wajah oleh lebah tersebut bukan berdasarkan personal.

"Sangat menakjubkan bahwa otak seukuran microdot dari lebah jenis ini dapat mencapai analisis gambar," kata salah satu peneliti.

"Pendekatan untuk pengenalan wajah lewat lebah dapat terbukti bermanfaat dalam pengembangan sistem pengenalan wajah," tambahnya.

Ini artinya, lebah dapat menggunakan strategi yang sama untuk mempelajari dan mengenali objek yang berbeda dalam lingkungan mereka. Selain itu, lebah dapat mempelajari pengaturan relatif fitur yang menciptakan wajah seperti pola, jelas peneliti.

Minggu, 14 Februari 2010

Burung Pelihara Mumi Berumur 4.000 Tahun


Penelitian yang dilakukan pada sebuah mumi berusia 4.000 mengungkapkan kepercayaan masyarakat Mesir kuno bahwa burung dapat mengawetkan dan melindungi mumi setelah mati.

Mumi berjenis kelamin wanita tersebut sebelumnya ditaruh di Barnum Museum, Connecticut namun kemudian dipindahkan ke Quinnipiac University guna di analisa menggunakan pemindai canggih.


Uji coba tersebut akhirnya menjawab teka-teki keberadaan bungkusan misterius di dalam tubuh mumi. Setelah diselidiki, diketahui bahwa bungkusan tersebut berisi burung yang sengaja dibunuh dan diawetkan sebagai bentuk persembahan terhadap Dewa. Berdasarkan catatan sejarah, persembahan tersebut juga dimaksudkan untuk menjaga dan melindungi wanita yang meninggal itu saat memasuki kehidupan alam baka. Demikian keterangan yang dikutip dari Daily Mail, Jumat (15/1/2010).

Pemindai canggih tersebut juga membantu para ilmuwan mengetahui lebih banyak hal sewaktu wanita tersebut masih hidup, termasuk usia dan jumlah anak yang dimilikinya.

Mumi yang dinamakan Pa-Ib ini diyakini sebagai manusia yang berasal dari abad 2.000 sebelum Masehi. Pa-Ib berada di Barnum Museum, Connecticut sejak 1890.

Dalam penelitiannya, ilmuwan menganalisa berbagai benda yang tertinggal dalam tubuh mumi dengan bantuan peminda Toshiba 64-slice CT. Pemindai canggih ini sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit dalam tubuh manusia.

"Pemindai ini benar-benar memberikan pemandangan luar biasa soal mumi dan mengetahui ritual kuno dalam upacara kematian zaman dahulu," kata Professor Ronald Beckett dari Bioanthropology Research Institute, Quinnipiac.

"Setiap mumi memiliki kisahnya masing-masing. Setiap informasi yang didapat akan semakin menambah pemahaman kita terhadap kebudayaan Mesir kuno," tambahnya lagi.

Hasil temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Mesir kuno sangat percaya bahwa burung diyakini memiliki hubungan istimewa dengan Dewa Thoth, yaitu Dewa yang dipercaya memainkan peranan penting dalam menentukan akhir hidup seorang manusia.

Minggu, 07 Februari 2010

Ilmuwan Ciptakan Mesin Fotokopi Sel


Dengan mencontoh mesin fotokopi di perkantoran, para ilmuwan kemudian menciptakan printer atau mesin cetak yang bisa menghasilkan kopi gambar sel biologis berukuran nanoscale atau sangat kecil.

Ilmuwan dari Illinois University yang mengembangkan mesin fotokopi sel ini menyebutkan, hasil cetak sel biologis bisa sangat membantu dalam membuat jaringan tubuh buatan.


"Dengan memodifikasi teknik, akan sangat mungkin memanipulasi sel biologis atau sel biomolekul seperti DNA," kata ketua tim studi John Rogers seperti dikutip dari New Scientist, Selasa (2/2/2010).

Printer jet electrohydrodynamic buatan mereka bekerja dengan menghasilkan tegangan listrik berbeda diantara mulut pipa metalik dan subtrat di bawahnya. Hasil dari tegangan elektrik menyebabkan muatan ion dalam tinta berkumpul dalam mulut pipa dan permukaannya terbentuk seperti bulan sabit.

Karena muatan ion saling menolak, permukaan bulan sabit kemudian akan berubah bentuk menjadi bentuk kerucut, menghasilkan ujung super tipis dimana tetesan kecil tinta paling kecil dikeluarkan.

Proses ini menghasilkan ketidakseimbangan dalam kuantitas ion negatif dan positif dalam tinta cetak. Namun anggota tim menyadari bahwa dengan mengganti muatan kutub tegangan, mereka bisa menyelesaikan masalah tersebut serta bisa juga mencetak berbagai pola rumit muatan negatif atau positif ke dalam substrat. Pada intinya, kemampuan ini sangat dibutuhkan untuk membuat kopi sel biologis yang rumit dan sangat kecil.

Senin, 01 Februari 2010

Internet Bikin Orang Lebih Sibuk


Hasil studi terbaru menyebutkan internet membuat kehidupan orang-orang menjadi lebih sibuk dari biasanya.

Riset yang dilakukan Windows Live mengemukakan, dengan internet orang-orang kini bisa melakukan lebih banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan dibandingkan dengan orang-orang pada masa 30 tahun lalu.


Internet juga membuat mereka enam kali lebih sering terlibat komunikasi dengan orang lain. Mereka dapat melakukan berbagai hal sekaligus melalui internet. Windows Live mengungkapkan, hari-hari pengguna internet disibukkan dengan kegiatan bersosialisasi di situs jejaring sosial, melakukan transaksi di bank atau berbelanja secara online. Demikian keterangan yang dikutip dari Big News Networks, Kamis (4/2/2010).

"Waktu kita menjadi 20 kali lebih efisien dibandingkan tiga dekade lalu," ungkap juru bicara Windows Live.

Selain itu, internet pun perlahan mulai menggeser perilaku bekerja dan berumah tangga. Jika dulu orang harus berada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan, kini semakin banyak orang yang bekerja dari rumah. Sebaliknya, sambil mereka bekerja di kantor, tak jarang mereka pun melakukan berbagai pekerjaan untuk keperluan di rumah.

Melalui studi ini diketahui dua dari tiga wanita dan tiga dari empat pria mengerjakan keperluan rumah saat berada di kantor.

Selasa, 26 Januari 2010

Kecepatan Maksimal Manusia Berlari Capai 65 Km/Jam


Kecepatan maksimal manusia dalam berlari diyakini bisa mencapai 55 hingga 65 km per jam. Selama ini, kecepatan berlari manusia hanya sekira 44 km per jam. Rekor tersebut dipegang pelari tercepat dunia, Usain Bolt di kategori lari jarak 100 meter.

Demikian diungkapkan dalam sebuah jurnal biologi, Journal of Applied Physiology. Arikel tentang kecepatan manusia berlari ditulis oleh Peter Weyand dari Southern Methodist University, Rosalind Sandell dan Danille Prime dari Rice University serta Matthew Bundle dari University of Wyoming.


"Pandangan yang ada selama ini menunjukkan bahwa batas kecepatan maksimal dipengaruhi oleh kekuatan otot untuk mendorong anggota tubuh untuk berlari, dan itu merupakan salah satu alasan yang masuk akal, kami mencoba untuk mengetahui lebih jauh mengenai kontraksi otot," kata Weyand seperti diberitakan Times of India, Selasa (26/1/2010).

Menurut Weyand seseorang bisa membayangkan bila seorang sprinter mampu mencapai kekuatan maksimal kontraksi otot antara 800 hingga 1.000 pound maka secara biologis manusia mampu lebih cepat, mengingat kontraksi otot maksimal yang dilakukan manusia hanya terjadi pada satu bagian otot tungkai sedangkan yang lainnya hanya mendukung.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan treadmill berkecepatan tinggi yang mampu membuat manusia berlari pada kecepatan maksimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batas kecepatan lari ditentukan oleh kemampuan kecepatan serat otot berkontraksi.

Namun, diakui para peneliti bahwa kecepatan manusia 55 hingga 65 km per jam sulit untuk terjadi.

Kamis, 21 Januari 2010

Usus Sehat Berkat Apel


BUAH apel diketahui mengandung pektin yang berfungsi melawan lemak dan menurunkan kolesterol. Serat di dalamnya juga membantu proses pencernaan. Belakangan, apel disinyalir mampu menyehatkan usus.
Berdasarkan berita yang dikutip Health Day, Kamis (21/2/2010), sebuah studi teranyar menemukan fakta bahwa pektin di dalam apel dapat meningkatkan bakteri baik dalam sistem pencernaan. Departemen Mikrobiologis University of Denmark's National Food Institute melakukan sebuah penelitian untuk menguji efek dari mengonsumsi apel. Mereka memberi makan beberapa ekor tikus yang sedang diet dengan buah apel dan berbagai macam produk berbasis apel, seperti jus apel dan puree apel (apel yang telah dihaluskan).



Kemudian, para peneliti memeriksa bakteri di dalam usus tikus untuk melihat apakah mengonsumsi apel dapat meningkatkan bakteri baik di dalamnya. Bakteri baik tersebut bermanfaat bagi kesehatan, juga mengurangi risiko terjangkit beberapa penyakit pencernaan.

"Dalam penelitian, kami menemukan bahwa tikus yang makan apel dengan kandungan pektin tinggi, jumlah bakteri baik di dalam ususnya meningkat hingga kesehatan ususnya juga meningkat," kata Andrea Wilcks, salah seorang peneliti pada jurnal BMC Microbiology edisi 20 Januari.

"Sepertinya, ketika apel dimakan teratur selama periode tertentu, bakteri baik ini membantu menghasilkan asam lemak rantai pendek yang memberikan kondisi ph seimbang untuk memastikan keseimbangan mikroorganisme yang menguntungkan. Mereka (bakteri baik) ini juga memproduksi zat kimia yang disebut butyrate yang merupakan bahan bakar penting untuk sel-sel dinding usus," kata Wilcke.

Penulis kajian menegaskan bahwa lebih banyak penelitian dibutuhkan untuk menentukan apakah penemuan pada tikus tersebut juga berlaku efektif untuk manusia.

Kamis, 14 Januari 2010

Wahana Permainan Cari Urin Paling Pesing


Taman hiburan di Surrey Inggris mengundang masyarakatnya untuk berpartisipasi dalam pembangunan wahana permainan yang baru. Tapi bantuan yang diminta memang agak "nyeleneh". Mereka meminta sampel urin semua pengunjung dan mencari mana yang memiliki aroma paling pesing.

Sepertinya Thorpe Park ingin menampilkan wahana baru dan berbeda dengan yang lainnya dengan menonjolkan bau. SAW Alive, akan menjadi wahana horor baru yang paling menegangkan di dunia.

Thorpe menawarkan imbalan sebesar 500 poundsterling atau sekira Rp7,18 juta bagi yang memiliki urin paling bau. Para kontestan sudah bisa mulai untuk berkompetisi mulai esok Jumat 26 Februari. Seperti dikutip ananova.com, Kamis (25/2/2010).

Urin yang paling bau itu nantinya akan digunakan pada wahana baru tersebut. Wahana itu nantinya memberikan enam lokasi yang menyeramkan dan sesuai dengan film SAW. Wahana itu nantinya akan benar-benar menguji nyali dan sangat realistis.

Pemilihan urin tersebut nantinya akan dilakukan oleh Manajer Thorpe Park Laura Sinclair. "Kami ingin membuat SAW Alive lebih nyata dan seseram mungkin, sehingga pengunjung nantinya dapat merasakan bahwa mereka memang berada di film horor," ujarnya.

Kamis, 07 Januari 2010

Dulu dan Kini

posted by : Adli S

Dulu... kami hilang di kegelapan
Yang kelamnya mengalahkan gulita malam
Penuh ketakutan, kebingungan dan gundah berkepanjangan
kami meraba-raba, padahal mata ini tidak buta
Bahkan mereka penikmat nista dunia


Dulu... kami diselubung kesunyian mencekam
Didasar kalbu yang dalam
Sesungguhnya ada rindu pada simfoni cinta
Padahal kami tidak peduli
Telinga ini biasa dengar hingar bingar
Bisikan syaitan-syaitan penghancur iman

Dulu... kami terbungkam kebisuan
Lidah kami kelu
Tak pernah melantunkan ayat-ayat-MU
Padahal kami tidak bisu
Bibir ini terus berkoar
Penuh dusta, kesombongan, dan kemunafikan
Tubuhku dulu bagai lumpuh
Setiap langkah menuju kemaksiatan
Setiap sentuhan menyakiti hamba Tuhan
Setiap gerakan mencerminkan kezaliman
Namun... ketika itulah Kau sentuh mata dan hati kami
Agar kami lihat agungnya kebesaran Mu
Ya Samii'... Kau lepaskan sumbat telinga
Kau izinkan kami mendengar indahnya simfoni cinta
Pedoman hidup kami
Ya Allah... Kau basuh lidah kami
Hingga diri ini mampu temani bulan dan bintang berzikir pada-Mu , ya Kabiir
Ya Lathiif... melalui kelembutan-Mu
Ragaku mulai mampu bersujud pada-Mu
Ya Mujib... dekatkan kami selalu pada-Mu
Sirami hati kami dengan kesejukan-Mu
Lindungi kami dengan keperkasaan-Mu
selubungi jiwa dan raga kami dengan Cinta Mu

Rabu, 30 Desember 2009

Pengen Tahu Tentang X.3 Lebih Dalam...?

kejadian aneh, yang mungkin ga bakalan kalian temui di kelas manapun! haha, serunya kompaknya itu loh. NO DAY WITHOUT LAUGH. mungkin itu kali yah, bayangkan yang katanya anak anak pintar smu8, tapi pada gila! mungkin karena udah stres belajar kali, makanyyaaaah, postingan yang sebelum ini postingan formal untuk ten three, maksudnya yah isinya tentang pendidikan, cuap-cuap wali kelas dsb. hehe
sekarang kita masuk ke postingan gila gila! seru-seruannya ten three, di sini nih bakalan terungkapnya rahasia dibalik KISAH SEPULUH TIGA! haha lebay, ayooo BACA !a pada gila semua. haha



gak gak. di disini bakalan terungkap semua tentang KAMI ! first we're talking about PERKUMPULAN :: ada banyak perkumpulan yang katanya si pandaaaaaaaai banget nyanyi, yap! MEROCK CHOIR (metal-rock) ini perkumpulan emang rada gila gahol dsb. anggota (riro-iska-tia-dimo-mahik-first-zikra) semua lagu dicampur jadi satu di sini, yang barat maupun timut, yang hapal maupun gak hapal tetap dinyanyiin. haha
yang katanya suara 21 oktaf ini pengen banget buat album. haha
it's us dream guys! semua mimpi itu pasti nyata kok. jadi berusaha teman haha

second : perkumpulan orang yang suka belajar ni (LINDAH-RARA-YANI)
ini dia si kembar tiga(halah) yang katanya si trio jilbab duduk sebangku dan tepatnya paling rajin dan always beribadah kepada Allah swt. pertahanin guys!

third : perkumpulan anak tengah dan anak depan ::
pasti bingung kan? yang nulisnya aja bingung. haha
pokoknya anak tengah ni baik baik, suka menolong dan tidak sombong. haalaah

semua itu gak ada artinya lagi kalau kami udah bareng bareng, kami bakalan ketawa bareng, menggila, menggaring dsb. haha
kebersamaan kami never die deh! hehe
gak ada lagi tuh yang namanya perkumpulan.
ni perkumpulan bukan kayak geng motor, yang bergep gep dan brutaaaall
tiddddddddddddaaaaaaaaaaak! haha, kami suatu keluarga yang harmonis.

GAK ADA DEH YANG BISA NGALAHIN KOMPAKNYA TEN THREE :*

Senin, 28 Desember 2009

Tulisan dari Wali Kelas (Part II)


Tauladan Orang Tua : Kunci Pendidikan Anak

Oleh : Nurhafni



Mungkin masih lekat dalam ingatan, bahwa dalam teori tabularasa anak yang baru lahir ibarat kertas putih yang masih bersih tanpa noda. Dan lingkunganlah yang akan sangat menentukan akan menjadi apa dan bagaimana keberadaan anak selanjutnya. Kedua orang tua merupakan lingkungan yang paling dekat dengan anak. Maka secara otomatis keberadaan orang tua akan sangat berpengaruh terhadap keberadaan sang anak.
Apakah seorang anak akan menjadi orang yang baik atau tidak, maka kedua orang tua yang paling banyak pengaruhnya. Sebab harus diakui orang pertama kali dan paling sering bersentuhan dengan seorang anak adalah kedua orangtuanya. Mulai waktu baru lahir, maka kedua orangtulah yang merawat sampai pada waktu remaja juga orang tua yang merawat.

Kemudian setelah itu, setelah tahu peran penting orang tua bagi anaknya, apa yang harus dilakukan para orang tua dalam mendidik anak, agar anaknya mampu menjadi anak yang baik. Seperti dalam teori tabularasa di atas, karena anak ibarat kertas putih tanpa noda, maka dalam bahasa lain disini orang tua dutuntut untuk bisa memberikan warna yang cerah bagi anaknya.
Warna yang mampu mengantarkan seorang anak menjadi orang yang bermanfaat. Bukan malah memberikan kertas kosong tersebut dengan tinta hitam yang akan menyuramkan masa depannya.
Dengan apa orang tua memberikan pencerahan bagi anaknya, inilah pertanyaan berikutnya yang patut dipikirkan. Tentu jawabannya adalah dengan pendidikan, orang tua harus memberikan bekal bagi anaknya dengan memberinya pendidikan yang baik. Pendidikan yang mampu menjadi bekal dalam kehidupannya kelak. Entah itu pendidikan yang sifatnya kemampuan intelektualitas termasuk juga pendidikan moral. Dua hal itu menjadi satu kesatuan yang harus diperhatikan dan diberikan oleh orang tua kepada anaknya.
Apa yang di sampaikan Seto Mulyadi seorang pemerhati anak dan sekarang ketua Komnas Perlindungan anak dalam acara Kick Andy di Metro TV pada kamis malam (06/03/2008) juga menarik untuk diperhatikan dalam memberikan pendidikan pada anak, bahwa anak merupakan peniru paling hebat se dunia”. Ada beberapa pesan yang disampaikan dari pernyataan tersebut. Pertama, jelas bahwa seorang anak sifatnya suka meniru, mencotoh atau mengikuti apa yang di lihat dan didengar. Apa yang dilihat, baik di televisi atau juga kadang dalam kejadian nyata itu akan juga menjadi modal bagi seorang anak untuk dilakukan. Jika apa yang dilihat merupakan sesuatu yang positif, jelas pengaruhya juga baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dan sebaliknya, jika yang menjadi totonan itu sesuatu yang tidak ada unsur pendidikannya (negatif), maka juga akan berpengaruh tidak baik bagi anak.
Televisi merupakan salah satu media yang kerap kita jumpai di rumah-rumah. Hampir setiap rumah yang ada di Indonesia ada televisinya sehingga jelas itu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku anak. Sebab sulit menjumpai anak yang tidak akrab dengan televisi pada kesehariannya. Padahal, kita juga sudah tahu sendiri bagaimana tayangan televisi sekarang. Sangat sedikit nuansa pendidikan yang ada di semua tayangan televisi. Apalagi film remaja, yang kebanyakan filmnya hanya menjadikan sekolah sebagai tempat pacaran. Itu jelas sudah bertentangan dengan fungsi sekolah yang sesungguhnya.
Jika demikian yang terjadi, jika media yang menjadi tontonan anak-anak sudah tidak mendidik. Maka kita juga tidak bisa banyak berharap bahwa media, utamanya televisi akam mempunyai pengaruh positif bagi keberadaan anak. Apalagi ketika kita kembalikan pada esensi pesan di atas, bahwa anak sangat hebat dalam meniru maka jelas hal tersebut akan menjadi ancaman bagi perkembangan anak. Sehingga mau tidak mau orang tua disini harus mampu bertindak tegas agar anaknya tidak terlalu menjadikan telivisi sebagai teman kesehariannya. Paling tidak harus ada diarahkan untuk nonton sesuatu yang positif dari tontonan yang ada di televisi.
Dari ungkapan Kak Seto di atas, begitulah panggilan akrabnya pesan yang Kedua, orang tua diharap mampu memberikan tauladan yang baik bagi anak. Media televisi yang selalu akrab dengan anak sudah sulit untuk diharapkan, maka orang tua harus mampu menggantikan posisi tersebut. Artinya, anak yang biasanya sangat akrab dengan televisi, maka itu bagaimana bisa berubah menjadi lebih akrab dengan orang tua. Orang tua juga harus mampu menjadi panutan, tauladan yang baik, dan menjadi tempat curhat bagi anak mengenai segala problem yang ia (anak) alami. Jangan sampai antara anak dengan orang tua terjadi misscomonication. Jadi keakraban diantara orang tua dengan anak juga harus terjaga. Sebab itu juga akan menjadi kunci bagi anak untuk tidak merasa enggan meniru dan menuruti apa yang diinginkan dan dikehendaki orang tua. Dan sebaliknya, ketika komunikasi yang baik antara keduanya tidak ada. Itu sangat memungkinkan anak enggan meniru atau menuruti apa yang menjadi anjuran orang tua. Bahkan (semoga saja tidak), bisa-bisa anak malah membenci orang tua. Dengan demikian nantinya yang banyak berpengaruh dalam kehidupan anak adalah keberadaan orang tua, bukan lagi televisi atau media lain yang minim nilai pendidikannya.
Nah itulah pesan dari ungkapan Seto Mulyadi yang harus senantiasa diperhatikan oleh para orang tua. Tauladan yang baik, curahan kasih sayang, memperhatikan pendidikan bagi anak harus senantiasa menjadi aktifitas yang dilakukan oleh orang tua. Sebab itu akan menjadi kunci keberhasilan bagi pendidikan anak dan juga menjadi penentu masa depan yang cemerlang bagi anak. Sebab kepribadian yang baik juga akan terbentuk dari proses yang baikpula..
Sehingga Sebaliknya yang akan terjadi, jika orang tua kurang memperhatikan kebe radaan anaknya, bahkan acuh tak acuh de ngan aktifitas yang dilakukan anaknya. Anak mau berbuat apa, mau berteman dengan siapa, dan mau belajar atau tidak, itu tidak dipikirkan atau bahkan tidak diperhatikan sama sekali oleh orang tua. Maka jangan terlalu berharap banyak anak akan menjadi baik, akan mampu menjadi penerus keluarga, agama, bahkan bangsa yang baik. Malah tidak menutup kemungkinan ia (anak) menjadi anca man, beban yang tidak bermanfaat kepada orang lain, termasuk orang tuanya, bahkan dirinya sendiri. Meski anaknya disekolahkan disekolah faforit sekalipun, itu bukan jaminan akan menjadi anak yang baik tanpa adanya perhatian khusus dari orang tuanya.
Akhir tulisan penulis ingin menyampaikan harapan besar, yakni semoga apa yang ditulis ini mampu memberikan pencerahan, bagi para orang tua, bagi semua masyarakat, khususnya penulis pribadi untuk betul-betul memperhatikan yang namanya pendidikan. Sebab harus diakui, ini memang menjadi tonggak masa depan semua orang. Utamanya pendidikan keluarga yang diberikan orang tua kepada anak Wallahu A ‘lam Bissowab.


Kamis, 24 Desember 2009

Status praesens Profesi guru

“Alangkah terkejutnya anak ini melihat patung guru tidak lagi kuning berkilauan karena lapisan emasnya sudah berubah hitam kehijauan, tak se dap dipandang mata. Dia kemudian lari berteriak sepanjang jalan,..” kulit emas Patung Guru sudah terkelupas... lapisan emas Patung Guru sudah terkikis habis... Patung Guru hitam pekat seperti hantu... “Semua orang mendengar teriakan itu. Teriakan ini diulang dari mulut ke mulut. Radio kota turut menyiarkan berita itu. Seluruh kota men jadi gempar. Maka tidak seperti biasanya, seluruh penduduk membanjiri alun-alun untuk melihat Pa tung Guru. Idiih..., sungguh menjijikkan rupa Pa tung Guru sekarang. Mana lapisan emasnya ? ki ni hitam pekat, pedih mata melihatnya, mual perut karenanya” (Cerpen Patung Guru, 1984).




Begitulah kira-kira gambaran “status praesens”” (masa kininya) profesi guru. Guru sebagai salah satu sub komponen input instrumental, meru pakan bagian dari sistem yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Tidak berlebihan bila dika takan bahwa sukses tidaknya pendidikan bangsa terletak ditangan guru. Namun anehnya, guru sebagai sebuah citra, guru sebagai profesi justru menga lami involusi. Guru dikunci mati pada kedudukannya sebagai instrumen.

“Status praesens” guru hanyalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Komplain, opini, usul serta beragam protes, terutama yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan guru, yang secara pasti akan berpengaruh terhadap citra dan martabat profesi guru, lenyap begitu saja atau berhenti dita raf “kami tampung”.

Lebih dari itu, sebagaimana tersirat pada cerpen Patung Guru (yang tidak lagi terawat tersebut) diatas, posisi sosial guru dalam status masyarakat pun, tampaknya juga mulai bergeser. Guru tidak lagi memiliki legitimasi sosial terhormat dan bermar tabat. Guru tidak lagi dijadikan sebagai sumber informasi, bahkan dalam banyak hal, guru tidak la gi dijadikan sebagai patron teladan. Peran guru di masyarakat sebagai sumber informasi digantikan oleh “anak buah” teknologi yang lebih canggih lewat media televisi dan internet. Makna luhur yang tersirat dibalik Hynne guru “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” pun nadanya telah berubah menjadi sebuah elegi getir yang sarat parodi dan sindiran.

Sosok guru yang bermartabat dan terhormat pernah muncul ketika institusi pendidikan kita masih berbentuk pertapaan dan padepokan yang begitu bersahaja. Konon, guru atau resi pada masa itu benar-benar menjadi figur panutan, pinunjul, mum puni, berwibawa, dan disegani. Institusi pertapaan tak ubahnya “kawah candradimuka” , tempat seorang resi menggembleng para siswa (cantik) agar kelak menjadi sosok yang arif, tangguh, kaya ilmu, memiliki kepekaan moral dan sosial yang tinggi. Di mata masyarakat, kehadiran sang resi begitu tinggi citranya. Bermartabat, terhormat, dan memiliki legiti masi sosial yang mengagumkan. Masyarakat be nar-benar respek terhadapya. Apresiasi masyarakat terhadap profesi resi atau guru menjadi sumber informasi, sumber “sugesti”, atau sumber inspirasi masyarakat dalam mengatasi masalah keseharian.

Apakah guru masa kini masih mampu mengintemalisasi sifat-sifat seorang resi dalam mengem ban misinya sebagai pengajar atau pendidik ? Ma sihkah masyarakat menghargai atau memiliki apresiasi yang baik terhadap profesi guru ? Agaknya, mengharapkan sosok guru yang pinunjul, mumpu ni, dan disegani terlalu berlebihan pada saat ini. di hadapan siswanya, kata-kata guru bukan lagi “sab da panditiratu” yang mesti diturut. Bahkan dalam banyak hal, guru harus lebih sering mengelus dada, merenungi nasibnya yang kurang beruntung. Be lum lagi aksi-aksi pelecehan (harassment) yang menimpa seorang guru. Seperti aksi pemukulan se jumlah siswa terhadap seorang guru pengawas UAN pada salah satu SMA di Jawa Timur yang ter jadi beberapa waktu yang lalu. Sebuah pengharga an yang kurang beruntung dari sebuah profesi mu lia. Bahkan dengan tingkat kesejahteraan yang mi nim, status sosial guru semakin tersisih ditengah-tengah masyarakat yang mendewakan hal-hal yang bersifat duniawi dan kebendaan.

Guru pada masa kini, tampaknya telah ditindih banyak beban. Pertama, tugas berat yang diemban nya kurang diimbangi dengan tingkat kesejahteraan yang memadai. Gaji guru yang kecilpun masih dipe ras dengan beragam potongan dengan dalih untuk keperluan dana sosial, asuransi, urusan korps atau pungutan lainnya. Anehnya, guru tidak bisa berkutik. Sikap penuh nilai pengabdian, loyalitas, dan tanpa pamrih, agaknya telah membuat guru tak mau ber singgungan dengan konflik. Mereka memilih diam daripada menyuarakan kenyataan pahit yang dira sakannya.

Kedua, guru sering dijadikan “kendaraan” untuk kepentingan tertentu. Guru tidak banyak pilihan. Kebebasan dan kemerdekaan untuk mengeluarkan pendapat telah dibatasi oleh simbol-simbol tertentu. Guru harus menjadi sosok yang nrimo, pasrah, dan tidak banyak menuntut.

Ketiga, harapan masyarakat yang terlalu “perfeksionis” dan berlebihan. Dalam kondisi yang tidak menentu, masyarakat tetap menuntut agar guru memiliki idealisme sebagai figur pengajar dan pen didik yang bersih dari cacat hukum dan moral. Gerak gerik guru selalu menjadi sorotan. Melakukan pe nyimpangan moral sedikit saja, masyarakat ramai-ramai menghujatnya. Ironisnya, harapan yang ber lebihan itu tidak diimbangi dengan apresiasi masya rakat yang proporsional. Profesi guru dimata masya rakat masa kini telah kehilangan pamomya, tidak la gi dianggap sebagai pekerjaan yang luhur dan mulia.

Dan Keempat, para siswa dan pelajar masa kini semakin masa bodoh terhadap persoalan-per soalan moral, terjebak kedalam sikap instan. Akibat nya, guru merasa kehilangan cara terbaik dan pu nya nilai edukatif dalam menangani prilaku pelajar. Beratnya beban yang mesti dipikul guru pada masa kini, jelas memerlukan atensi serius dari berbagai kalangan untuk memposisikan guru pada aras yang lebih proporsional dan manusiawi. Reaktualisasi peran dan gerakan penyadaran dari semua pihak sangat diharapkan untuk memulihkan citra guru. Tentu 8 saja misi luhur tersebut harus diimbangi dengan intensifya pendidikan keluarga sebagai ba sis penanaman dan pengakaran nilai moral, buda ya, dan agama kepada anak.

Disisi lain, pemerintah perlu memikirkan kembali perbaikan kesejahteraan guru. Dengan tingkat ke sejahteraan yang lebih baik dan manusiawi lagi, maka guru akan lebih terfokus pada tugasnya, se hingga tidak berfikir lagi untuk mencari pekerjaan sambilan sebagai tukang ojek, penjual rokok ketengan, atau makelar yang bisa menurunkan wibawa dan citra guru dimata masyarakat dan peserta didiknya. Tidak kalah pentingnya juga adalah apresiasi masyarakat yang cukup manusiawi tentang profesi guru. Memikirkan dan memberikan apresiasi yang cukup proporsional terhadap tugas mulia guru, iden tik dengan memikirkan nasib masa depan negeri ini. Bukan malah membalas “air susu” guru dengan air comberan, Semoga Patung Guru bisa terawat sehingga kembali kuning berkilauan .


Rabu, 23 Desember 2009

"pix3l" itu kami

Hii tman,,, aku akan mncritakan sebuah kisah dri suatu tmpat yg tk asing Lg kita dngar yaitu PIX3L..
taukah xan ap itu PIX3L..?
PIX3L adlah nma sbuah kLas yg dihuni oLeh org" yg asik..seru..n gokil....
mereka adLh....

AdLi: cow yg satu ini brasaL dri MTS IT,,, prtama x aku kira dy ank yg pndiam trnyta stelah bbrpa hri kLuar deh sfat asLiny,,, yg baek hati, pmaav, ska ktwa,,,trus ska bLng bnyk" bca ayat kursi biar Lncar...
Amirah: cew satu ini brasL dri SMPN 1 PKU,, seorg bu SEKRETARIS 2 yg gk prnh krja,,dy ank yg asik diajk ngbroL,,dan jg dy souLmatenya tia pkoknya tiada hri tnpa mgejek tia deh...
Andriyani: cLon aksel stu ni brasL dri SMPN 8 PKU,, dy adLh gru kmi,, pkoknya aku acungkan jempoL deh bwt bu guru
Cynthia: dy ini orgnya pndiam dan ska bged yg nmy film korea...
Deni : cow ni dibLng gembel sma tia tpi deni gk prnah mrah y kLU di bLng kyak gtu... wah deni baik hti y... wkwkwkwkwk :P
Dimo: y ampun kLu yg ini bda bged dgan deni... cow yg ska bged mnirukan gya pk nurben ini sring mmbwat suasna kLas mnjdi rame,,, apLgi dgn hitsnya yg TALAALBAAH... ckckckckkck
Dwika: cew yg sbngku dgan santa ini kLu dah dikLas ska ktwa brdua,, aku aj bngung tah ap yg diktwakan hemhem...
Faishal: cow yg ini Lain Lg.. kLu si dimo sLaLu smgat eh dy mLah Lmas.... (kok Lmas trus si can ayo SEMANGAT) hahha
Firdaus: ini dy yg ngkunya pndai grafiti (damai us),,, dya ini sring sma firman prgi skoLh breng, pLng breng, kmana" breng hayo ad ap ini?
Firman : ini dy caun... cow yg digosipin sma dhita,,, ayo un curi hati dhita...
Firstcilia : gtw ak gmna dya...
dya misterius...
haha...
Ghariza: cew yg mngaji pLing cepat,,, tpi ak ska dngar iza ngji enk bged iramany
Herta : cow mngiL yg sring kmi gngguin krna dy yg pLing kciL umrny dan gk prnah mnggiL kmi kakak
Ikhwanul : sang ketua kelas., cow pLing tinggi dikLas,,, souLmateny ican,, sang pemain basket.
Irman : ni dy faizun tmpat ak crhat dn bsa diandaLkan (promosi)... hahahaha seorg WKIL KETUA OSIS SMAN8 hidup faiz
Jogy : sang cLon aksel pcarny novan,ska bged brfto,, trus ska bLng jgn gnggu ak ,first,,, cattn ak sma kmu first
Lailatul: ni bu SEKRETARIS 1 sang cLon aksel dy ank yg sangd mnynangkan mnrutku...
Lindah : sang Lon akseL dn cew yg pendiam x kLu di kLas...
M. Rizki : nah ini si Rirro sang cLon akseL jga hahhaha dy adLh WKIL KETUA KELAS yg gk ad krja... trus ska diejek intan krna dy bLng gaul gahol... hahahha
Mahira: mahik ku hahahaha dy ank yg ngesms ak wktu gk skLah... hhhhaa kgenkan sma ak mahik (pede)
Meiliana: nah ini dya yg ska teriak dn sring di gngguin sma dimo n rirro sabar y bu...
Melizza: bu BENDAHARA 2 dy pLing ska bLang ke first," bwa kaca...? "
Mia : cew yg ska fto ini jg pnggmar BBF dy jg tmn yg bsa diandLkan utk curhat
Rara : cew yg ska bged shLt dhuha (waw alim y...)
Santa: cew yg satu ini kLu ktawa bsa disngka nngis smpai" si dwika aj bLang udhLh santa... pkokny ak gk prnah tw ap yg mreka Lkukan berdua...
Suci: cew pnggmar fanatik harpot ni tergLa" x sma smua pemain harpot smua mntra harpot aj dy hafaL
Tia Austin : nah in dy si titeng yg ska di bLng ibLis sma mira... tp cew yg rda tmboy ini prnh mng fashin show busana musLim (waw keren )
Try Intan: cew yg dbLng miang sma pk ibrahim ini emng ska bged gngguin daus tpi itu dLu krna skrg dy dah dpat cow hahahahaha
Zarra : cew yg ska ngobrol sma mahira, n melizza ini ska x main hp... (mbak dlm pLjran hp mhon dismpan y)
Zikra : nah ini tman ak crita tntng BBF dn dy nma yg pLing singkat, padat, dn berisi yg ska diejek oLh dimo dgan gya pk nurben zikrak...

Nah ituLah tingkah Laku ank kLas X.3 yg mmbwat ak tertwa setiap harinya...
ak gk mw pisah sma xan teman... dan ak mnta maap y kLu ad kata" yg mnyinggung xan ak mnta maap sebesar- besarnya....
dan apbLa kita berpisah jgn sombong y teman...
i Love u friend...

Minggu, 20 Desember 2009

Guru, Pahlawan Penuh Jasa

ADA banyak gelar yang diberikan kepada guru, pahlawan tanpa jasa, namun menurut saya, GURU adalah Pahlawan Penuh Jasa, karena hanya melalui gurulah orang dapat mempelajari sesuatu yang baru. Guru dimaksud tidak hanya yang ada dilembaga formal belaka, namun yang bersifat universal.

Tidak akan ada birokrat, teknokrat, legilatif, eksekutif, legislatif, tanpa kehadiran guru. Bahkan gembong teroris, Dr. Azahari, belajar membuat bom, sudah pasti dari guru.




Guru adalah key person dalam setiap pembelajaran agar setiap insani menjadi kritis terhadap setiap situasi dan adaptif terhadap kemajuan teknologi. Sebenarnya, apa peran guru sehingga layak disebut pahlawan penuh jasa? Pertama, guru sebagai pendidik. Peran guru begitu urgen, karena dengan mendidik, guru memelihara dan memberikan arahan yang berupa ajaran, tuntunan, pimpinan tentang sifat-sifat yang baik dan juga tentang kecerdasan pikiran (IQ). Meskipun, untuk suksesnya, peserta didik tidak cukup hanya cerdas pikiran, tetapi juga perlu cerdas emosional, cerdas spiritual, dan cerdas adversitas.

Kedua, guru sebagai pembimbing. Guru memberikan bimbingan yaitu memimpin, mengasuh, dan menuntun peserta didik untuk mengetahui lebih banyak hal yang akan dihadapi. Membimbing berarti guru memberikan petunjuk, asuhan, dan memberikan penjelasan tentang cara mengerjakan dan banyak hal yang perlu diketahui oleh peserta didiknya. Jadi, dengan menjadi pembimbing berarti guru adalah orang yang membimbing, memimpin dan menjadi panutan peserta didiknya.

Ketiga, guru sebagai fasilitator. Guru adalah penyedia, fasilitasi, sarana untuk mencerdas kan peserta didik. Guru menjadi disigner untuk terjadi pembelajaran. Guru menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga peserta didik menjadi berdaya, karena dengan pembelajaran yang menyenangkanlah peserta didik dapat mengolah informasi yang diperlukan untuk lebih adaptif di masa yang akan datang. Dalam peranan ini antara guru dan peserta didik berada sejajar, sebagai mitra untuk memperoleh dan mengolah informasi yang telah disepakati.

Keempat, guru adalah pengajar. Pengajar berarti orang yang mengajar atau memberikan petunjuk kepada peserta didik agar informasi diketahui oleh peserta didik. Menyampaikan informasi (transfer of knowleg) untuk

diketahui dan digunakan agar peserta didik dapat mengisi dan

mengkondisikan dirinya ditengah kemajuan dan perkembangan zaman.

Kelima, guru adalah pembelajar sepanjang masa. Setelah tamat dari

universitas, tentu guru harus belajar lagi, tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh dibangku kuliah, karena ketika mengajar guru akan menghadapi tantangan dan rintangan yang tidak kecil, untuk itu sebagai guru kita harus menjadi manusia pembelajar yang rajin membaca buku, tanda-tanda zaman, dan juga perlu mendengarkan setiap informasi yang baik untuk menjadikan guru lebih dari sekedar hanya penjejal ilmu saja. Dari kelima peranan di atas, layaklah kita merenungkan peran guru ditengah derasnya arus globalisasi. Apakah peranan anda sebagai guru?

sebagai pendidik atau pembimbing atau fasilitator atau pengajar ataukah pembelajar? Selamat memilih?


Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Sungguh mulia “gelar” yang diberikan bagi para guru di Indonesia. Namun, seperti kata judul di atas, apakah seorang guru masih layak menyandang predikat tersebut? Menurut hemat saya, sebelum mengkaji topik tersebut lebih dalam, kita haruslah sedikit mengubah judul di atas. Ya! Menjadi “Apakah setiap guru masih layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa?”. Mengapa demikian? Sebab saya rasa tidaklah bijak untuk menghakimi guru secara profesi. Maksudnya, saya disini ingin menekankan, bahwa tidak semua pencuri itu jahat. Demikian pula, tidak semua ustadz itu baik. Karena itulah, jangan sekali-kali mengadili secara global. Hendaknya kita menilai secara individual. Artinya, kita jangan memukul rata bahwa semua guru itu begini, semua guru itu begitu, dan lain sebagainya. Meskipun secara dominan, anggaplah 99 dari 100 guru kita anggap tidak layak menyandang predikiat di atas, kurang bijak jika kita menulis “Guru tidak layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa”. Atau sebaliknya, jika 99 dari 100 guru kita anggap qualified sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, janganlah menulis “Guru memang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa”. Lho, mengapa begitu? Kasarnya, kita dapat mengatakan, “Lho, di pernyataan pertama itu kan kasihan seorang guru yang layak disebut pahlawan tanpa tanpa jasa. Dia harus dipandang sebelah mata hanya karena teman-temannya tak layak mendapat julukan yang sama”. Dan, untuk pernyataan yang kedua tentu saja seperti yang anda pikirkan, “Lho, enak banget tuh si guru yang ‘tidak layak’. Gara-gara teman-temannya yang ‘memenuhi syarat’, ia ikut-ikutan juga”. Praktis bukanlah yang terutama. Jangan sampai karena adanya “minat” yang berlebihan untuk melakukan penyederhanaan terhadap yang kompleks, masyarakat kita yang sudah bingung ini semakin dibingungkan oleh argumen kita.
Menurut Amin Tjiasmanto, seorang warga Graha Famili, Surabaya Barat, yang menentukan layak tidaknya guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, hal itu dikembalikan lagi kepada sang guru. , tutur pria kelahiran Kuala Simpang 76 tahun silam tersebut. Lalu, bagaimana dengan banyaknya tudingan bahwa guru sekarang hanyalah mementingkan materi daripada kualitas mengajarnya? “Sudah saya katakan, yang penting adalah dedikasinya bagi negara. Namun, saya ingin bertanya kepada mereka (yang menuding guru cenderung meterialistis), berapakah gaji guru? Apakah sudah mencukupi? Lebih banyak mana dengan gaji orang kantoran? Sulit mana pekerjaannya? Besar mana tanggungjawabnya?”. “Saya rasa, uang yang didapatkan guru tidak pernah melunturkan citra guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mengapa, karena gaji guru itu, entah berapapun jumlahnya, adalah sebagai suatu balas jasa atas pengorbanannya. Kan tidak mungkin guru disuruh berkorban ngajar dan tidak diberi makan. Gaji guru sebagai tanda terima kasih kita untuk pengorbanan guru. Apalagi, uang itu kan untuk beli nasi juga? Untuk menghidupi keluarga juga? Namun, lain lagi kalau orang yang menjadi guru karena tidak ada profesi lain. Apalagi, jika mereka mengajar asal-asalan. Jelas tidak pantas menyandang julukan mulia tersebut”, lanjut Bapak Amin lagi.
Pendapat Bapak Amin Tjiasmanto ternyata diamini juga oleh Pujiarto, seorang pria berusia 21 tahun asal Banyuwangi yang mengadu nasib di kota Pahlawan. “Guru itu memang pahlawan tanpa tanda jasa. Uang yang diterima guru kan untuk makan juga. Masa guru tidak boleh terima uang? Kita harus tahu terima kasih kepada bapak-ibu guru. Kita bisa baca-tulis, dan lainnya apakah bukan karena guru? Namun itu guru yang baik, lho. Ada juga guru yang karepe dhewe (seenaknya sendiri), ngajar kalau mood saja, dan tidak mementingkan perkembangan anak didiknya, yang penting dapat gaji. Mereka itu kudhu digantung ning wit wae (sebakinya digantung di pohon saja)”, ujarnya dalam wawancara yang dilakukan Sabtu (26/4) malam.
Benjamin Widjojo, seorang warga Kencanasari Timur menambahkan, bahwa seyogyanya kita menghargai guru kita. “Kita pandai karena guru. Jadi, jangan banyak prasangka lagi tentang guru. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Apalagi, kita bisa mengeluarkan argumen yang memojokkan guru seperti sekarang ini, bukankah itu adalah sebuah bukti tak terbantahkan bahwa kita telah dididik guru menjadi manusia yang cerdas intelektual?”, paparnya. Hanya itu? Tidak. Dalam wawancara yang dilakukan Minggu (27/4) malam itu, Bapak Benjamin juga mengecam guru yang tidak memajukan pendidikan Indonesia. “Guru-guru yang tidak pantas mengajar, karena memang tidak kompeten misalnya, mundurlah dahulu. Belajar kembali sebelum maju. Guru yang terlalu tua, jangan ngotot mengajar. Beri kesempatan bagi yang muda. Dan hendaknya guru memfokuskan perhatiannya hanya kepada dunia pendidikan. Bonus, tunjangan, dan lain sebagainya jangan terlalu diperhatikan. Ya, itu yang namanya pengorbanan. Jangan ngisin-ngisini . Gara-gara sedikit guru yang begitu, nama guru secara keseluruhan jadi tercemar. Gara-gara cabai sedikit, pedaslah semangkuk gulai (versi lain dari peribahasa ‘karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga’) ”, tambahnya lagi dengan suara berapi-api.
Dari pendapat Bpk. Amin, Sdr. Pujiarto, serta Bpk. Benjamin, dapat disimpulkan bahwa ada kesamaan di antara pendapat mereka, yakni bahwa kita harus bisa membedakan, mana guru yang memang pahlawan tanpa tanda jasa, dan mana guru yang tidak layak menyandang predikat tersebut. Karena itu, janganlah kita sekali-kali mencap sebuah profesi sedemikian rupa, namun, haruslah kita menilik dari individu ke individu yang lain. Seperti yang saya katakan di awal tadi, jangan sampai ada pihak yang dirugikan (seorang guru ‘baik’ yang harus rela disebut ‘jelek’ karena rekan-rekannya), dan jangan juga ada pihak yang diuntungkan (seorang guru ‘jelek’ yang disebut ‘baik’ karena rekan-rekannya banyak yang ‘baik’).
Maka dari itu, sekarang kita dapat menjawab pertanyaan yang juga menjadi judul bacaan kecil ini, “Seorang Guru, Masihkah Layak Disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?”. Jawabannya, tergantung masing-masing guru yang bersangkutan. Apabila seorang guru memiliki dedikasi yang tinggi terhadap dunia pendidikan Indonesia, serta tak kenal lelah dan sepenuh hati dalam membimbing siswa, dan memiliki cita-cita yang luhur dalam mengembangkan pendidikan Indonesia, tidak perlu ragu lagi (dan jangan mengungkit lagi soal gaji!). Memang beliau adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Namun, sebaliknya. Jika seorang guru hanya mengajar asal-asalan dan hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perkembangan siswa, dan tidak mengajar dengan baik, jangan ragu untuk menegurnya, “Pemisi, Bapak / Ibu, tolong jangan menjadi guru ya. Kasihan, nanti gara-gara Bapak / Ibu, guru-guru Indonesia dicap buruk oleh masyarakat”.
Ya, hanya seorang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang layak mendidik negeri ini. Terima kasih, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


Rabu, 16 Desember 2009

Guru, bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa

“Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru…
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua jasamu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasih ku ‘tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahalawan bangsa
. . . . . . . . . . . . . . . . “
Stop!!! Jangan dilanjutkan!





Mungkin tidak banyak dari kita yang tahu, bahwa pada tanggal 8 November 2007, Sartono, sebagai pencipta Hymne Guru, disaksikan oleh Dirjen PMPTK Depdiknas, Dr. Fasli Jalal Ph. D dan Ketua Pengurus Besar PGRI HM. Rusli, telah menandatangani surat resmi tentang penggantian lirik terakhir dari Hymne Guru tersebut. Kata-kata “tanpa tanda jasa” diganti menjadi “pembangun insan cendekia”. Sehingga Hymne tersebut diakhiri dengan “Engkau patriot pahlawan bangsa pembangun insan cendekia.” Sebuah langkah yang mungkin dirasa lumayan bijak untuk mengakhiri “penderitaan” guru yang tak kunjung hilang.
Guru seringkali menjadi korban ketidakadilan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Prediket pahlawan tanpa tanda jasa, seolah-olah dimaknai dengan guru memang wajar jika tak mendapatkan balas jasa atas usahanya, atau minimal harus merasa cukup dengan balas jasa yang alakadarnya karma toh memang pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal makna hakiki dari “pahlwan tanpa tanda jasa” adalah bahwa jasa guru begitu besar sehingga tidak ada satu tanda jasapun yang sebanding untuk membalas jasa yang telah diberikannya.
Guru adalah tonggak pembangun dari sebuah bangsa. Gurulah yang memiliki peran besar dalam menghasilkan generasi-generasi penerus bangsa yang berilmu dan berkualitas. Kita tentunya masih ingat saat Jepang dihancurkan oleh Sekutu dengan membombardir kota Hiroshima dan Nagasaki. Hal yang pertama kali ditanyakan oleh kaisar Jepang ketika itu adalah berapa dari guru-guru mereka yang selamat. Mengapa yang ditanyakan bukan anggota parlemen, bukan dokter, pengusaha, atau arsitek (untuk merancang kota kembali mungkin!), mengapa harus guru dan mengapa bukan yang lain.
Dan mari kita saksikan apa yang terjadi dengan Jepang saat ini jika kita bandingkan dengan bangsa kita, “Indonesia tercinta”. Jepang melejit bagai roket, sedangkan kita bangsa Indonesia terseok-seok dilanda berbagai macam krisis, mulai dari ekonomi, politik, pendidikan hingga moral. Padahal Jepang dan Indonesia bangkit dari keterpurukan pada saat yang sama. Jepang mulai bangkit kembali dari kehancurannya setelah tanggal 6&9 Agustus 1945, dan Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi kenapa mereka lebih maju? Jawabnya karma mereka mampu berfikir bijak tentang apa yang semestinya dilakukan Mereka tahu bahwa majunya sebuah Negara sangat ditentukan oleh pendidikan. Kunci dari pendidikan itu adalah guru. dan pemerintah Jepang sangat menyadari hal itu. Maka lihatlah mereka sekarang. Jepang menjadi ikon untuk sebuah kemajuan. Sekarang mari lihat bagaimana keberadaan guru di Indonesia.
Gaji guru tetap rendah meski biaya pendidikan semakin tinggi. Kalau dihiting-hitung. adakalanya seorang guru ada yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya sendiri pada sekolah tempat dia mengajar. Apalgi kalau sekolah tersebut termasuk favorit, karena akan semakin tinggi biayanya Belum lagi kisah guru yang bahkan harus menjadi seorang pemulung untuk mencukupi biaya hidup keluarganya (lihat kisah “Kepala sekolahku seorang pemulung). Sebuah film documenter yang mendapat sambutan “wah” dari berbagai kalangan. Menyedihkan memang, bisa kita misalkan dengan ketika seorang guru mengajarkan kepada siswanya bahwa makanan yang baik itu adalah makanan 4 sehat 5 sempurna, justru pada saat yang sama dia sedang “megap-megap” memikirkan bagaimana memberi makan keluarganya dengan gaji yang tidak seberapa. Itu baru hanya agar dapat makan 3 kali sehari, apalagi memikirkan yang bergizi. Jauh . . . dan mungkin hanya mimpi!
Bagaimana dengan sertifikasi?
Pasti pertanyaan itu yang akan muncul kemudian. Bukankah setelah sertifikasi gaji guru saat ini menjadi lebih baik? Masalahnya sekarang adalah, dari semua guru yang ada di Indonesia, berapa persen yang sudah dapat sertifikasi? Tambahan, ini Indonesia Bung! jangan menutup mata dari banyaknya kolusi yang terjadi. Asal ada koneksi yang bisa memuluskan jalan, maka orang itulah yang pertama akan dapat sertifikasi, meski mungkin dia belum layak untuk mendapatkannya (mungkin ada yang akan berfikir bahwa ini hanya sentiment pribadi . . .tidak masalah, karma saya yakin orang itu pasti belum lama tinggal di Indonesia sehingga bisa jadi dia belum mengenal “apa” dan “siapa” “Indonesia” ! ^_^, sengaja dikasih tanda kutip agar pembaca bisa memaknainya sendiri)
Apa akibat dari rendahnya gaji guru terhadap dunia pendidikan?
Dalam hidup ini ada yang namanya factor sebab akibat. Secara teori, sebelum mengajar guru haruslah mempersiapkan bahan ajar, mulai dari media mengajar sampai bahan latihan, kapan perlu guru harus bisa lebih kreatif agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik bagi siswa. sehingga apa yang mereka ajarkan benar-benar matang dan gampang dicerna. Pastinya itu butuh waktu dan dana. Namun masalahnya adalah, banyak diantara guru-guru yang harus menggeluti pekerjaan sampingan untuk dapat menutupi biya hidup (terutama yang sudah berkeluarga). Akibatnya, mereka tidak punya waktu lagi untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Alhasil, proses belajar-mengajar di kelas menjadi monoton dan cendrung membosankan sehingga transfer ilmu menjadi tidak optimal. Lantas dengan kondisi seperti ini, apa kita pantas menyalahkan guru? terkadang kita juga harus belajar untuk menilai dengan manusiawi. Guru juga manusia. Mereka butuh makan untuk kelangsungan hidupnya.
Dalam hal ini saya bukan berarti membenarkan guru yang demikian, namun yang tidak bisa saya terima adalah ketika semua kesalahan ditimapakan kepada mereka. Bahkan ketika ada kasus pembocoran soal ujian pun, pasti guru yang disalahkan (tentang ini insya Allah akan saya bahas pada tulisan selanjutnya).
Ada sebuah budaya social dilingkungan kita (saya ambil daerah saya, West Sumatera) bahwa ketika ada seorang anak yang pintar, hebat dan berprestasi, maka lontaran yang keluar dari orang tuanya adalah “anak siapa dulu!”, tapi coba kita lihat ketika anaknya kurang cerdas (kalaupun tidak etis dibilang bodoh), nakal dan bikin susah orangtua, maka orang tuanya akan bilang, “Apa ini yang diajarkan guru kamu disekolah?”. Ini adalah sebuah ketidak adialan social yang sudah mendarah daging dalam masyarakat. Suka mencari kambing hitam. (mungkin karma yang putih jarang kali ya . . .)
Guru seringkali disalahkan atas ketidakberhasilan seorang anak. Guru dikambing hitamkan atas buruknya moral anak. Guru, guru dan guru lagi. Semua salah guru. Karma tugas guru adalah mendidik. Karma anak disekolahkan agar menjadi baik, agar pintar dan jadi orang. Jarang orang-orang yang paham bahwa tugas mendidik itu tidak hanya tugas sekolah, tugas guru. Tapi tugas semua aspek yang terkait dengan sang anak. Terutama orang tua. Kita ambil contoh mudah, jika disekolah siswa dilarang merokok, namun ketika si anak melihat ayahnya dirumah dengan santai merokok diruang keluarga, di depan anak-anaknya, lalu dimana salah guru ketika anak tersebut akhirnya menjadi perokok juga?
Ada fenomena menarik namun sangat disayangkan yang tejadi di abad ke-21 ini terkait dengan keseimbangan pendidikan yang didapat seorang anak dari sekolah dan dan orang tuanya. Saya masih ingat, ketika saya masih duduk di sekolah dasar hingga SMP (anda mungkin juga ingat bagaimana masa kecil anda), ketika saya dimarahi oleh guru disekolah, maka sedikitpun tidak terfikir untuk mengadukan hal itu ke ayah atau ibu saya. Yang ada justru saya takut seandainya mereka tahu, karna yang akan saya dapatkan adalah hukuman yang lebih lagi. Yang mereka pahami adalah kalau saya dimarahi guru berarti saya telah melakukan hal buruk di sekolah. Kalaupun saya mengadukan kepada mereka, maka hal yang mereka lakukan adalah bertanya kenapa sampai saya dimarahi, sehingga mereka akhirnya tahu bahwa saya memang telah melakukan hal yang tidak disenangi guru, berkelahi mungkin, atau mengusili teman hingga menangis. Tidak akan ada pembelaan apalagi sampai ada keinginan untuk “melabrak” guru tersebut karma berani memarahi anak kesayangannya.
Namun apa yang terjadi sekarang, saat ini, di sekolah-sekolah mulai SD hingga SMA. Atas nama HAM, guru tidak punya hal lagi untuk memarahi siswa apalagi sampai memukul pakai rotan (saya masih ingat, dulu tangan kami sering dipukuli rotan kalau tidak sholat), jangan pernah coba-coba memarahi siswa apalagi keponakan walikota, senakal apapun. Kalau anda seorang guru, dan anda melakukannya, siap-siap saja orang tua anak tersebut akan datang melabrak anda keesokan harinya. Ini pengalaman pribadi saya ketika sedang praktek lapangan di sebuah SMA terkenal di kota kelahiran saya.
Hasilnya? Silahkan sekarang anda mulai mengamati bagaimana perilaku kebanyakan anak sekolah. Tidak kenal sopan santun, bahkan kurang ajar terhadap guru. Tidak adalagi penghormatan apalagi merasa berhutang budi. Mungkin mereka berfikir uang 100 ribu yang mereka bayarkan setiap bulan sudah setimpal dengan harga ilmu yang mereka dapatkan. Atau mereka selama ini sudah diobok-obok oleh kalimat “guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa” dalam Hymne Guru yang sudah dihapalkan sejak dari SD, sehingga merasa bahwa tidak perlu lagi hormat, toh mereka kan dibayar. Guru harus puas dengan prediket “tanpa tanda jasa”
Untuk itu, saya merasa sangat setuju dengan adanya penggantian lirik tersebut. Sehingga orang tidak lagi memandang status guru sebagai status yang hina, status rendahan bahkan mungkin sampai ada yang malu bercita-cita menjadi guru (karma jasanya tidak dibalas “kalau mau kaya jangan jadi guru”).
Guru adalah sosok yang mulia, tanpa guru tidak akan pernah ada kemajuan, karma tanpa guru, ilmu sebagai dasar sebuah kemajuan tidak akan pernah berpindah tempat, tanpa guru . . .kita bukan apa-apa, bahkan filsafah minangkabau mengatakan “ Alam Takambang Jadi Guru”. Karna guru adalah “Pembangun Insan Cendekia”, maka sudah saatnya guru mendapatkan tempat di hati kita, dihati setiap insan yang cinta ilmu, sudah saatnya guru mendapatkan perlakuan terhormat meski itu tak berarti meminta guru untuk menjadi orang yang gila kehormatan
Teruslah berjuang wahai guru, kembangkan sayapmu dibelantara dunia.

Untukmu negeri . . .
Bagimu Indonesia . . .
Guru-guru kami tercinta
Ada dan bekerja!!!


Introduction